PERSALINAN NORMAL PER VAGINAM

PERSALINAN NORMAL PER VAGINAM

Video Persalinan Normal dalam 5-Menit
• WMV (Moderate Resolution, 12 MB)
• MP4 (Moderate Resolution, 21 MB)
• MP4 (Higher Resolution, 64 MB)
• WMV (High Resolution, 198 MB)

 

Kelahiran ( kala pengeluaran ) dikenal sebagai persalinan kala II . Dimulai saat dilatasi lengkap dan beraklhir setelah anak lahir seluruhnya.

Saat melewati jalan lahir, terjadi serangkaian gerakan janin normal yang disebut “seven cardinal movement of labor” :

  1. Engagemen (stasion 0)
  2. Desensus (penurunan bagian terendah janin)
  3. Fleksi (dagu janin menempel di dadanya)
  4. Putar paksi dalam (putaran kepala dari oksiput melintang menjadi oksiput anterior atau posterior)
  5. Ekstensi (ekstensi kepala melalui “crowning” melewati vulva)
  6. Putar paksi luar (Putaran kepala menjadi oksiput tranversal, menyesuaikan dengan bahu yang sedang memasuki pintu atas panggul dalam posisi sagital) )
  7. Ekspulsi (bahu dan seluruh tubuh anak lahir)

 

Saat desensus melewati stasion 0, ibu mulai merasakan adanya tekanan di rektum seperti perasaan akan buang air besar. Pada saat itu, pasien merasa ingin meneran dan dengan menahan nafas pasien melakukan gerakan meneran (valsava maneuver) untuk mengeluarkan bayi. Usaha dan kemampuan ibu untuk meneran akan mempercepat berlangsungnya proses persalinan.
Pada primipara, kala II normal berlangsung dalam waktu 2 jam.

KELAHIRAN ANAK

Dalam proses persalinan normal, kepala janin keluar dari orifisium vaginae , umumnya dengan wajah menghadap rektum/anus.
Saat lahirnya kepala, lakukan tindakan menyokong perineum untuk mengurangi resiko laserasi perineum yang luas (ruptura perinei tingkat III/IV)  akibat persalinan kepala yang terlampau cepat dan tidak terkendali
Setelah kepala lahir, berikan waktu sejenak agar bahu perputar dan turun melalui jalan lahir. Waktu yang sejenak tersebut memberikan kesempatan bagi jalan lahir untuk :memeras” rongga dada anak untuk mengeluarkan cairan amnion dalam rongga dada dan paru keluar melalui mulut dan hidung anak. Dengan demikian maka setelah kepala anak lahir, tindakan kita yang oertama kali adalah membersihkan mulut dan hidung anak.
Setelah 15 – 30 detik, kontraksi uterus terjadi dan pasien merasa ingin meneran lagi untuk menyelesaikan persalinan bahu dan seluruh tubuhnya..

MENJEPIT DAN MEMOTONG TALI PUSAT

Setelah bayi lahir, biarkan talipusat sampai tubuh anak mengering – menangis – bernafas dengan baik dan tubuh mulai berwarna kemerahan. Selama waktu itu, posisi anak setinggi level plasenta dalam uterus ibu.
Segera setelah pernafasan anak berlangsung dengan baik, pasang penjepit talipusat plastik sekitar 3 cm dari dinding abdomen anak. Kosongkan pembuluh darah talipusat dengan mengurutnya kearah proksimal ibu dan pasang klem talipusat 2 cm dari penjepit talipusat. Gunakan gunting untuk memotong talipusat diantara dua klem dengan perlindungan telapak tangan kiri.
Selama transisi kehidupan intra uterin dan ekstra uterin, talipusat masih berfungsi untuk memberikan oksigen pada janin. Segera setelah menangis, maka aliran darah dialihkan ke paru untuk memperoleh oksigen yang lebih banyak dibandingkan dari plasenta.
Saat talipusat masih belum terpotong, ketinggian nenatus yang lebih tinggi dari level plasenta dalam uterus (misalnya meletakkan tubuh anak diatas perut ibu) akan menyebabkan aliran darah neonatus ke plasenta sehingga neonarus menjadi sedikit anemia. Sebaliknya, meletakkan tubuh neonatus dibawah level plasenta akan menyebabkan tertimbunyya darah plasenta di tubuh neonatus. Kedua hal diatas sama-sama merugikan neonatus oleh karena hemolisis yang cepat dari HbF akan menyebabkan ikterus neonatorum.
Bila anak tidak segera bernafas dan memerlukan resuitasi maka lakukan penjepitan dan pemotongan talipusat segera agar neonatus segera mendapatkan resusitasi.

MELAHIRKAN PLASENTA

Tak lama setelah anak lahir, plasenta masih melekat di dinding uterus.
Beberapa saat kemudian (umumnya sekitar 3 menit ) plasenta akan mulai terleoas dari dinding uterus dan dengan kontraksi uterus maka plasenta akan dikeluarkan dari uterus.
Proses ini dinamakan “Persalinan Kala III” yang umumnya berlangsung kurang dari 30 menit.
Tanda-tanda lepasnya plasenta :

  • Keluarnya darah segar secara mendadak
  • Talipusat di depan vulva memanjang
  • Uterus yang semula lunak dan mendatar setelah lahirnya anak, menjadi membulat dan mengeras.
  • Uterus yang semula berada di pertengahan os pubis dan umbilikus sesaat setelah lahirnya anak terlihat membesar sampai setinggi pusat.

Segera setelah anak lahir, kongtraksi uterus berhenti dan rasa nyeri hilang.
Saat sudah terjadi separasi plasenta , rasa nyeri kembali muncul.
Setelah plasenta sudah berada dalam jalan lahir, ibu bersalin kembali merasakan keinginan untuk meneran dan kemudian meneran untuk mengeluarkan plasenta.
Bila plasenta tidak segera di keluarkan (retensio plasenta) , atau terjadi perdarahan yang masif (perdarahan pasca salin) sesaat menunggu persalinan spontan plasenta maka dokter harus melakukan tindakan “plasenta manuil”
Setelah persalinan plasenta, dalam keadaan normal uterus akan berkontraksi sehingga pembuluh darah uterus yang semula memasok plasenta tertutup. Tanpa kontraksi uterus ini, akan terjadi perdarahan masif yang akan menyebabkan renjatan dan segala akibatnya.

Untuk mencegah terjadinya perdarahan pasca salin maka dilakukan cara pertolongan persalinan kala III secara aktif :

  1. Injeksi uterotonika segera setelah anak lahir
  2. Meregangkan talipusat
  3. Bila sudah terjadi kontraksi maka dilakukan tarikan talipusat secara terkendali

 

Delivery is also known as the second stage of labor, or part of the second stage of labor. It begins with complete dilatation and ends when the baby is completely out of the mother.
The exact time of delivery is normally taken at the moment the baby’s anterior shoulder (the shoulder delivering closest to the mother’s pubic bone) is out.
As the fetal head passes through the birth canal, it normally demonstrates, in sequence, the “cardinal movements of labor.” These include:
1. Engagement (fetal head reaches 0 station.)
2. Descent (fetal head descends past 0 station.)
3. Flexion (head is flexed with the chin to its’ chest.)
4. Internal Rotation (head rotates from occiput transverse to occiput anterior.)
5. Extension (head extends with crowning, passing through the vulva.)
6. External Rotation (head returns to its’ occiput transverse orientation)
7. Expulsion (shoulders and torso of the baby are delivered.)
As the fetal head descends below 0 station, the mother will perceive a sensation of pressure in the rectal area, similar to the sensation of an imminent bowel movement. At this time she will feel the urge to bear down, holding her breath and performing a Valsalva, to try to expel the baby. This is called “pushing.” The maternal pushing efforts assist in speeding the delivery.
For women having their first baby, the second stage will typically take an hour or two.
Delivery of the baby
During the delivery, the fetal head emerges through the vaginal opening, usually facing toward the woman’s rectum.
As the fetal head delivers, support the perineum to reduce the risk of perineal laceration from uncontrolled, rapid delivery.
After the fetal head delivers, allow time for the fetal shoulders to rotate and descend through the birth canal. This pause also allows the birth canal to squeeze the fetal chest, forcing amniotic fluid out of the baby’s nose and mouth.
After a reasonable pause (15-30 seconds), have the woman bear down again, delivering the shoulders and torso of the baby.
Clamp and Cut the Umbilical Cord
After the baby is born, leave the umbilical cord alone until the baby is dried, breathing well and starts to pink up. During this time, keep the baby more or less level with the placenta still inside the mother.
Once the baby is breathing, put two clamps on the umbilical cord, about an inch (3 cm) from the baby’s abdomen. Use scissors to cut between the clamps.
During the transition from intrauterine to extrauterine life, the umbilical cord will continue, for a short time, to provide oxygenated blood to the fetus. Once the baby is breathing, then blood is shunted to its lungs where it receives much better oxygenated blood than it was getting from the placenta.
While the cord remains intact, elevation of the fetus above the level of the placenta (for example, resting on the mother’s abdomen) results in some pooling of newborn blood within the placenta and can make the baby somewhat anemic. Holding the baby below the level of the placenta results in pooling of placental blood within the newborn. This isn’t good either, as the rapid homolysis of the fetal hemoglobin can lead to increased problems with neonatal jaundice. It is better to keep the baby more or less level with the placenta until the cord is clamped.
If the baby is not breathing well after delivery and needs resuscitation, immediately clamp and cut the cord so you can move the baby to the resuscitation area.
Delivery the Placenta
Immediately after delivery of the baby, the placenta is still attached inside the uterus. Some time later, the placenta will detach from the uterus and then be expelled. This process is called the “3rd stage of labor” and may take just a few minutes or as long as an hour.
Signs that the placenta is beginning to separate include:
• A sudden gush of blood
• Lengthening of the visible portion of the umbilical cord.
• The uterus, which is usually soft and flat immediately after delivery, becomes round and firm.
• The uterus, the top of which is usually about half-way between the pubic bone and the umbilicus, seems to enlarge and approach the umbilicus.
Immediately after the delivery of the baby, uterine contractions stop and labor pains go away. As the placenta separates, the woman will again feel painful uterine cramps. As the placenta descends through the birth canal, she will again feel the urge to bear down and will push out the placenta.
If the placenta is not promptly expelled, or if the patient hemorrhages while awaiting delivery of the placenta, this is called a “retained placenta” and it should be manually removed.
After delivery of the placenta, the uterus normally contracts firmly, closing off the open blood vessels which previously supplied the placenta. Without this contraction, rapid blood loss would likely prove very problematic or worse.
To encourage the uterus to firmly contract, oxytocin 10 mIU IM can be given after delivery. Alternatively, oxytocin 10 or 20 units in a liter of IV fluids can be run briskly (150 cc/hour) into a vein. Breast feeding the baby or providing nipple stimulation (rolling the nipple between thumb and forefinger) will cause the mother’s pituitary gland to release oxytocin internally, causing similar, but usually milder effects.
A simple way to encourage firm uterine contraction is with uterine massage. The fundus of the uterus (top portion) is vigorously massaged to keep it the consistency of a tightened thigh muscle. If it is flabby, the patient will likely continue to bleed.

About Bambang Widjanarko

Obstetrician and Gynecologist ; Staf pengajar di Fakultas Kedokteran & Kesehatan UMJ ; Kepala Departemen Obstetri Ginekologi FKK UMJ ; Ahli Kebidanan & Ilmu Penyakit Kandungan di RS Islam Jakarta Utara.

Posted on 10/05/2012, in Keterampilan Klinik, OBSTETRI. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: