Kehamilan Kembar dengan “Umbilical Doppler Flow” ABNORMAL

Podcast: Play in new window | Download

Rasio Sistolik/diastolik dari velosimetri umbilikal digunakan untuk menilai besaran resistensi vaskular plasenta .

REDFreverses end diastolic selama end diastolik adalah abnormalitas gelombang aliran dan resistensi yang besar.

Neonatus yang lahir dengan REDF semuanya menunjukkan adanya KMK (kecil masa kehamilan) dan kematian perinatal yang mencapai 50%.

Terdapat pula peningkatan morbiditas berupa :

  • SC atas indikasi gawat janin
  • Nilai Apgar yang rendah
  • Hari perawatan  di NICU – neonatal intensive care unit yang lama
  • Prematuritas
  • Bajimati plasenta
  • Anomali neonatus yang bersifat LETHAL

Temuan ini menyimpulkan bahwa REDF terkait dengan outcome perinatal yang buruk dan diperlukan penatalaksanaan yang agresif untuk mengatasinya.

AEDFabsent end diastolic flow :

An absent end diastolic flow (AEDF) in the umbilical artery Doppler assessmentis a useful feature which indicates underlying fetal vascular stress if detected in mid or late pregnancy. It is often classified as Class II in severity in abnormal umbilical arterial Dopplers

REDFReverse End Diastolic Flow :

Kasus di Ruang Maternitas :

JA ibu hamil berusia 33 tahun, hamil 32 minggu lebih 4 hari dengan kehamilan kembar diamniotik – dikorionik  buah kehamilan buatan dengan IVF- In Vitro Fertilization . Pertumbuhan dan perkembangan janin di monitor dengan pencitraan regular ultrasonografi. Sejauh ini, semua berjalan normal, namun pada pemeriksaan USG terakhir kemarin tercatat awal adanya pertumbuhan dan perkembangan janin yang tidak sama yang mengenai janin B. Lingkar Abdomen dan Panjang Femur secara bermakna lebih kecil dari yang seharusnya dan secara bermakna pula berbeda dengan janin A.

JA is a 33 year old woman, pregnant at 32 4/7 weeks with diamniotic, dichorionic twins who were conceived with IVF. She has been monitored with regular ultrasound scans, looking for normal growth. So far, everything has been fine, but at her last scan yesterday, the sonographer noticed new-onset discordant growth, primarily effecting twin B. Both the Abdominal Circumference and fetal femur length were significantly smaller than expected and significantly smaller than Twin A.

Sonografer kemudian melakukan pemeriksaan Doppler Umbilikal dan menemukan tidak adanya (absen) aliran end diastolik pada janin B

The sonographer then assessed the umbilical Doppler and found absent end-diastolic flow in Twin B.

Akibat adanya gangguan pertumbuhan dan bukti adanya gangguan aliran darah pada janin B, maka diputuskan untuk melakukan pengakhiran kehamilan lebih dini. Namun untuk menurunkan resiko prematuritas, diperikan batamethason pada ibu dan secara terus menerus melakukan pemeriksaan NST – non stress test harian. Setelah pemberian steroid selama 48 jam , dilakukan seksio sesar dengan janin A berada pada presentasi bokong dan janin B berada pada posisi lintang.

Because of the discordant growth and evidence of significant flow impairment to Twin B, the decision was made to deliver her early. But to decrease the risk of prematurity, we elected to administer betamethasone to the mother, and continue to monitor the twins with daily NSTs. Once the 48 hours of steroid administration is up, we’ll perform a cesarean section, with Twin A in breech presentation, and Twin B in transverse lie.

Dalam melaksanakan tindak lanjut pada kehamilan kembar maka kelainan yang sering dijumpai adalah gangguan pertumbuhan yang diakibatkan oleh penyimpangan (shunting) aliran darah dari satu janin (donor) ke janin lain (resipien).Peristiwa ini tidak menguntungkan keduanya, dimana potensi  terjadi “overload” pada satu janin dan “hipovolemia” pada janin lainnya. Keadaan ini menyebabkan adanya kecenderungan PJT – pertumbuhan janin simetrik

In following twins, discordancy is a relatively common abnormality, with shunting of blood toward one twin at the expense of the other. This shunting is actually not very good for either twin, potentially leading to overload in one and hypovolemia in the other. This is in addition to the tendency for twins to experience symmetrical growth restriction due to two placentas competing within a single uterus.

Satu cara untuk melakukan pengamatan aliran darah adalag menggunakan Doppler. Tidak ada cara tindakan non-invasif untuk mencatat aliran vasa umbilikalis, namun kita dapat menentukan secara tidak langsung dengan membandingkan aliran arteri puncak dengan aliran end distolik. Nilai normal adalah 2-3 : 1 . Namun oleh karena resistensi plasenta yang meningkat, rasio ini menjadi bertambah besar akibat kenaikan aliran untuk menembus plasenta, dan tekanan balik end – diastolik. Temuan yang mempunyai nilai prediktif adalah “absen” aliran end – diastolik atau “reverse” aliran  end-diastolik.

One way to evaluate fetal blood flow is through Doppler studies. There is no way to non-invasively record the absolute blood flow through the umbilical arteries and vein, but we can indirectly measure the normalcy of the flow by comparing the ratio of the peak arterial flow to the end-diastolic flow. This should be between two and three to one. But as placental resistance increases, this ratio widens, with increased flow needed to penetrate the placenta, and significant end-diastolic back pressure. The most predictive findings, though, are the absence of end-diastolic flow, or the reversal of end-diastolic flow.

Pada janin B, aliran end-diastolik berkrang sedemikian rupa sampai berhenti yang mengindikasikan adanya hambatan aliran. Data ini disertai dengan bukti adanya gangguan pertumbuhan pada janin B melalui USG, maka kita harus segera mengakhiri kehamilan. Akan tetapi, kita masih memiliki waktu 48 jam untuk melakukan pemberian Betametason guna maturasi paru.

In the case of Twin B, the end-diastolic flow had diminished so much that it essentially ceased, indicating significant restriction to flow. That, in combination with the documented diminished growth of Twin B, leads us to deliver the twins early. However, the need for delivery, while important, is not urgent, allowing us the opportunity for improving fetal maturity with steroids.

About Bambang Widjanarko

Obstetrician and Gynecologist ; Staf pengajar di Fakultas Kedokteran & Kesehatan UMJ ; Kepala Departemen Obstetri Ginekologi FKK UMJ ; Ahli Kebidanan & Ilmu Penyakit Kandungan di RS Islam Jakarta Utara.

Posted on 08/05/2012, in Asuhan Antenatal, Jadwal Harian, OBSTETRI, Uncategorized, Visite Pagi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: